Pages

Rabu, 05 Agustus 2015

Pengalaman Lolos Ujian Mandiri di Universitas Brawijaya 2015





Universitas Brawijaya... 
Salah satu daftar kampus yang masuk dalam deretan universitas bergengsi di Indonesia. Oleh karena itu ga heran kalau banyak pelajar yang harus gigit jari jika tereliminasi dalam rangkaian tes yang di selengkarakan oleh UB. Jadi buat kalian para pembaca khususnya pelajar yang sudah menyempatkan membaca postingan saya kali ini, saya ucapkan selamat bagi kalian yang di terima menjadi salah satu bagian di Universitas Brawijaya. Yang belum lolos.. jangan berkecil hati, tetap semangatt yaa, perjalanan kalian masih panjang, jangan stuck, bangkit dan kobarkan kembali api semangat kalian :)

Dan untuk kalian adik-adik yang berminat untuk masuk UB saya sarankan mulai dari sekarang untuk mencicil materi dan soal-soal untuk masuk PTN, jangan sampai UN menjadi penghalang kalian untuk fokus dalam mencari PTN yang kalian inginkan (Eittss bukan berarti kalian menyepelekan UN juga yaa, intinya harus sama-sama seimbang) Fighting!!!


Saya adalah salah satu dari sekian banyak pelajar yang lolos ujian masuk Universitas Brawijaya, lebih tepatnya ujan mandiri UB 2015. Saya lolos jurusan yang sangat saya impikan sejak saya dari SMP dulu, yaitu Psikologi Brawijaya. Woww rasanya itu benar-benar campur aduk, antara senang, histeris,nangis, ketawa campur jadi satu deh. Saking senangnya saya peluk semua anggota keluarga saya sambil nangis bahagia, kalau inget-inget masa itu saya pingin ketawa sendiri, hihi.






Kampus Fisip ^^

Well saya mau cerita sedikit pengalaman saya mengikuti ujian mandiri di UB. Saya waktu itu sebetulnya ingin sekali masuk Psikologi Unud di Bali. Jadi jalur undangan/SNMPTN, SBMPTN, dan pilihan saya yang pertama adalah harga mati Psikologi. Haha ngebet banget yah :') dan saya gagal, rasanya itu dada sesak seketika, saya menangis seharian penuh sampai air mata benar" kering. Benar-benar pasrah dan bisa di bilang mulai sedikit depresi. Akhirnya saya mulai searching di internet untuk pendaftaran ujian masuk mandiri di universitas lainnya.

Jujur, awalnya sama sekali engga berpikir untuk kuliah di luar, jadi pikiran saya saat itu adalah Unud, benar-benar cinta Bali pokoknya hehe. Sampai satu titik saya sudah benar-benar pasrah, akhirnya semua pendaftaran mandiri univ diluar saya pelan-pelan lihat untuk tanggal tesnya. Pertama adalah UNDIP, saya sangat kecewa karena pendaftaran sudah ditutup padahal tesnya dilaksanakan di sekolah saya dulu huhu. Okee sambil menghibur diri, saya iseng-iseng buka FB, dan waktu itu mata saya terbelalak ternyata masih ada pendaftaran yang buka dan itu UB. Oke fix dalam hati saya berkata, " Aku harus ikut tes disini gimanapun caranya". 

Bundaran di Universitas Brawijaya


 Awalnya orang tua saya kurang setuju, tapi karena saya memohon" dan ingin mencoba untuk tes disana, jadi masalah lolos dan engga lolosnya itu urusan nanti, yang penting ada kesempatan sikaattt, wkwkwk.

Dengan bermodal hanya dua buku (Materi+Soal) dan tidak ikut bimbel sama sekali, saya pun nekat untuk ikut tes di Malang. Perjalanan yang ditempuh Dps-Malang adalah 13 jam, dan pertama kalinya naik travel, rasanya badan cukup pegal padahal hanya duduk saja.


Sesampainya di Malang, saya menginap di Amaris Hotel, small hotel but clean, cari makan ga perlu ribet, tinggal toleh kiri ada tempat makan, praktis. Oh ya dekat sama Bakso President juga lho.. sayang saya ga sempet nyobain gara" tutup hikss. *nyambung ke wisata kuliner*


Di UB saya cek lokasi pada hari itu juga, biar besok saat tes ga perlu ribet lagi untuk mencari lokasinya. 





Fakultas Ilmu dan Budaya

Lokasi saya untuk tes di UB



Hi Malang

 Dan besoknya saat hari H saya bangun subuh-subuh untuk baca setidaknya sedikit materi, siapa tau membantu. Sebenarnya perlu adaptasi yang cukup besar dimana saya dulunya jurusan IPA sekarang ikut tes jurusan IPS. Tapi saya percaya, dengan usaha dan semangat yang tinggi pasti bisa :)

Tes mulai pukul 9 pagi, dan saya berangkat pukul setengah 8 pagi. Sialnya selama 1jaman lebih taxi yang saya tumpangi kejebak macet yang panjang gara-gara banyaknya pelajar yang ikut tes di UB. Untung bunda sigap, kami memilih untuk berjalan kaki dengan cepat. Saya terlambat 10 menit, saat itu kondisi saya bermandikan keringat, antara gugup dan jalan tadi yang cukup jauh. Pada saat saya mau masuk ruangan bunda mengelus kepalaku, " Adik bunda percaya kalau adik bisa, semangat ya sayang." 


Seketika semangat saya kembali bangkit. Saya merasa mengerjakan soal-soal dengan cukup baik. Dipikiran saya saat itu hanya fokus mengerjakan, ga peduli gimanapun hasilnya yang jelas saya sudah mengerjakan soal dengan baik. Setelah selesai tes, saya berpikir saat itu pilihan pertama saya Psikologi, pilihan kedua adalah  Sastra Jepang, entah bagaimana saya merasa pesimis untuk mendapatkan Psikologi, dan yakin nilai saya masuk Sastra Jepang.


Perjalanan pulang ke dps hati saya bertanya-tanya, jika nanti saya dapat di Psikologi UB apa diambil atau bagaimana? Dan jawaban bunda saat itu, 'Nanti kita rundingkan lagi ya dik, yg pnting sekarang kamu istirahat dulu". Hati saya saat itu gelisah, tapi saya berusaha untuk menepisnya.






Yang mau masuk jurusan ini mana suaranya? :)

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 1 Agustus 2015 pukul 1 pagi waktu Bali, dengan perasaan ikhlas takut kecewa saya mengetik nomer peserta saya dengan gemetar. Detik itu juga mata saya langsung melotot membaca tulisan atas nama blablabla telah diterima di program studi FISIP- Psikologi Brawijaya. Woww seneng bangett. Akhirnya cita-cita saya menjadi seorang Psikolog mulai terbuka lebar. Rasanya penantian saya yang dulu tidak sia-sia. Keluarga semua ikut senang... tapi dugaan saya ternyata benar.

Orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk merantau, karena saya anak perempuan satu"nya yang dimiliki mereka. Ahh betapa sedihnya hati ini. Rasanya hati ini perih... sungguh sangat disayangkan kalau menyia"kan kesempatan ini. Saya sudah berusaha meyakinkan orang tua saya kalau saya bisa menjaga diri baik" dan berjanji pulang nanti membawa gelar sarjana yang saya inginkan. Alhasil apa mau dikata, keluarga saya tidak ada yang setuju walaupun saya berusaha meyakinkan mereka.

Mau bagaimana lagi, saya harus membuang mimpi saya menjadi seorang Psikolog. Mungkin Brawijaya bukan jalan hidup saya, setidaknya Tuhan sudah mengizinkan saya untuk mencicipi bagaimana rasanya ikut tes dan lolos di jurusan yang sangat saya inginkan. Akhirnya sekarang saya masuk di Sastra Jepang Universitas Udayana. Saya percaya kesuksesan bisa kita dapat dari manapun asal ada kemauan dan semangat.

Semoga kisah saya ini bisa memberikan inspirasi bagi para pembaca setia blog saya. Inti dari cerita ini adalah Tidak ada yang tidak mungkin. Tuhan pasti akan selalu memberi solusi kepada umatnya yang selalu berusaha dan berdoa. Ingat, gagal sekali bukan akhir dari segalanya. Jadikan sebagai sumber semangat dan pelajaran yang berharga.


Apa ini salah satu kampus impianmu? 


Hal Penting buat kamu yang mau tes di UB :

Cukup sekian cerita dari saya :) Apabila ada kesalahan dalam penulisan, saya minta maaf yang sebesar besarnya. Untuk kalian yang ingin sharing pengalaman/kisah kalian bisa email ke email saya : intan.milla@gmail.com .
Akhir kata saya ucapkan terima kasih ^^


3 komentar:

  1. Selamat akhirnya masukke jurusan yang di idam2kan

    BalasHapus
  2. Seneng baca blog kamu. saya rencana juga masuk UB, tapi deg degan banget takut gagal lagi kayak waktu sbm :(. Tingkat kesulitan soal UB Mandiri sama SBM apa hampir sama ? Makasih infonya..

    BalasHapus
  3. Adakah nilai minus jika salah menjawab ?

    BalasHapus

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Wikipedia

Hasil penelusuran

Ada kesalahan di dalam gadget ini

SPARKLING BLOGS

Photobucket

Tombol Share

Blog Archive

Total Tayangan Laman

Follow this blog with Bloglovin

Follow on Bloglovin
Diberdayakan oleh Blogger.

Video Bar

Loading...

Translate

WELCOME TO MY BLOG

Popular Posts

Social Icons

Followers

Featured Posts

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©